Tampilkan postingan dengan label Catatan Teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Teman. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 November 2013

Bagaimana Al-Qur'an Menjawab Pertanyaan Manusia

Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ?
Qur'an Menjawab :
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi ? (Lihat QS.Al-Ankabuut : 2).

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Lihat juga QS.Al-Ankabuut : 3)

Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
Qur'an Menjawab :
“...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Lihat QS.Al-Baqarah : 216)

Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur'an Menjawab :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya……….” (Lihat QS.Al-Baqarah : 286)

Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi dan putus asa?
Qur'an Menjawab :
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (Lihat QS.Ali Imraan : 139)
“...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (Lihat QS.Yusuf : 87)

Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Qur'an Menjawab :
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (Lihat QS.Ali Imraan : 200)
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'”. (Lihat QS.Al-Baqarah : 45)

Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur'an Menjawab :
“….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal…….” (Lihat QS.At-Taubah : 129)

Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Qur'an Menjawab :
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka……….” (Lihat QS.At-Taubah : 111)

Dikumpulkan dan dirulis ulang oleh Muhammad Ridha Ismail, sebagaimana Rujukan Asli dari Hakeem bin Zain

copas : kaskus.us

Gelar Terakhir dan Terbaik Bagi Manusia Adalah Almarhum

Ust. Felix Siauw

gelar terakhir dan terbaik bagi manusia adalah almarhum | begitulah sekarang kita sedang mengumpulkan persiapan

maka setiap dari kita sesungguhnya mengantri mati | yang kita tidak tahu di bagian barisan mana kita?

antrian mati itu terus mendekat dan tak pernah memanjang | kita makin mendekati mati namun jarang yang menyadari

tidak melihat kau atau aku atau dia tapi kita semua | karena setiap awal musti diakhiri akhirnya

jangan takut mati karena itu pasti | takutlah bagaimana caranya kita mati

betapa banyak yang sudah berlalu terlebih dahulu | namun enggan kita mengambil pelajaran

istri anak dan keluarga mereka harus dipersiapkan | terhadap ummat ini kita diminta pertanggungan

tiada amal yang menolong kecuali keikhlasan | maka ampunan Allah dan ridha-Nya sangat kita perlukan

semakin hari urat semakin kendur dan pandangan semakin luntur | maka apa yang dapat menyelamatkan hamba selain sabar dan syukur?

jangan lalai jangan lemah dan jangan terperdaya | nikmatnya dunia jangan buat lupa

sungguh tempat istirahat terbaik adalah surga | nantikan kaki-kaki kita saat menginjak disana

ini hanya pengingat bagi diri | yang sebentar lagi akan mati

Kamis, 30 Desember 2010

Senyum Sebagai Sedekah

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dalam agama Islam, senyum juga merupakan suatu ibadah karena membuat orang yang tersenyum menjadi indah dan enak dilihat. Islam mengajarkan bahwa jika Anda tidak memiliki apapun untuk disedekahkan, maka bersedekahlah dengan sebuah senyum.

Di zaman Rasulullah saw., seorang sahabat yang tidak memiliki apa-apa untuk disedekahkan bertanya kepada Rasulullah, ”Jika kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lantas apa yang bisa kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya?” tanya sahabat.

Minggu, 05 Desember 2010

Kesehatan Dalam Islam

Assalamualaikum . . .

Islam sejak dari awal sangat mementingkan hidup sehat melalui tindakan promotif-preventif-protektif. Langkah dimulai dari pembinaan terhadap manusia sbg subjek sekaligus objek persoalan kesehatan itu sendiri. Islam menanamkan nilai-nilai tauhid dan manifestasi dari tauhid itu sendiri pada diri manusia. Nilai-nilai tersebut mampu merubah persepsi2 tentang kehidupan manusia di dunia yg pada gilirannya tentu saja secara merubah perilaku manusia. Dan perilaku yg diharapkan dari manusia yg bertauhid adalah perilaku yg merupakan realisasinya dari ketaatan terhadap perintah dan larangan Allah.

Empat faktor utama yg mempengaruhi kesehatan adalah lingkungan (yang utama), perilaku, pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada manusia. Faktor lingkungan (fisik, sosek, biologi) yg mempunyai pengaruh paling besar terhadap status kesehatan tetap saja ditentukan oleh manusia. Manusialah yg paling memiliki kemampuan utk memperlakukan dan menata lingkungan hidup.

Rabu, 01 Desember 2010

Indahnya Memaafkan

Assalamualaikum . . .

Yg sering menjadi problem berat kita adalah kemauan untuk memaafkan kesalahan orang lain.
Berat ringannya kemauan memaafkan itu terkait dengan besar kecilnya rasa kesal, atau dendam kita terhadap seseorang. Semakin dalam rasa kekesalan, kebencian, dan permusuhan kita pada seseorang, maka semakin berat kita untuk memaafkan.

Allah mengajarkan kita untuk saling memaafkan?
Secara psikologis, yg mendapatkan keuntungan dari sikap memaafkan orang itu yg pertama adlh pihak yang memaafkan, bukan yg dimaafkan.
Secara psikologis, bukankah benci itu suatu beban yg memberatkan kita? Rasa benci itu juga bagaikan luka. Bila kebencian kita pelihara, sama saja kita memelihara luka diri.

Dan bila kebencian telah berubah menjadi dendam yang menuntut balas, maka luka itu semakin kita perdalam dan semakin perih kita rasakan sebelum dendam terlaksana.
Namun ketika dendam telah terlaksana, benarkah luka atau beban yg berat dipikul kemana-man tadi akan hilang ? Pengalaman mengatakan: “tidak”, dan permusuhan akan meningkat, yg berarti semakin dalam kita menyayat kulit hati yg telah luka dan perih tadi. Semakin sakit, khan?

Minggu, 28 November 2010

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

Semoga bisa menjadi motivasi untuk menuntut ilmu dunia dan akherat yang dibangun atas keimanan kepada ALLAH dan sebagai cahaya penerang dari kebodohan :

1- Dimudahkan jalan menuju surga. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. at-Tirmidzi)


2- Didoakan oleh para malaikat dan makhluk-makhluk Allah yang lain.

Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa menempuh suatu jalan dengan tujuan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Selain itu, malaikat akan meletakkan sayapnya bagi orang yang mencari ilmu sebagai keridaan atas tindakannya. Sesungguhnya yang ada di langit dan bumi, bahkan ikan-ikan di laut, akan memohonkan ampunan bagi orang yang menuntut ilmu. Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan atas planet yang lain. Para ulama adalah pewaris manusia. Dan, para nabi tiada mewariskan dinar atau dirham, melainkan ilmu. Maka, barang siapa mengambilnya, berarti ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Ahmad)

HIKMAH DI BALIK MUSIBAH SAKIT

Orang yang sedang ditimpa penyakit tidak perlu dicekam rasa takut selama ia mentauhidkan Allah dan menjaga shalatnya. Bahkan, meskipun di masa sehatnya ia banyak berkubang dalam dosa dan maksiat, karena Allah itu Maha Penerima taubat sebelum ruh seorang hamba sampai di kerongkongan. Dan sesungguhnya di balik sakit itu terdapat hikmah dan pelajaran bagi siapa saja yang mau memikirkan-nya, di antaranya adalah:

1. Mendidik dan menyucikan jiwa dari keburukan.

Allah Ta'ala berfirman, artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy Syura: 30)

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Imam al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda: ”Tidak ada penyakit, kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.”

Senin, 22 November 2010

Menangis karena Takut dan Ingat kepada Allah

Menangis karena takut kepada Allah disunahkan. Dalilnya adalah al-Quran dan as-Sunah. Adapun dalil-dalil dari al-Quran adalah:

Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? (TQS. an-Najm [53]: 59)
Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`. (TQS. al-Isra [17]: 109)

Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (TQS. Maryam [19]: 58)

Adapun dalil dari as-Sunah adalah:
Dari Ibnu Mas'ud ra., ia berkata; telah bersabda Nabi saw. kepadaku:


Jumat, 19 November 2010

Dan Hujanpun Berlalu

oleh Semburat Jingga

Hujan memadu rintiknya,membentuk balada khas yang kerap menghias sebidang kebun mungil belakang rumah.
Aromanya dekat,jauh dari asing.Ia luruh dalam sunyi pendengaran,serupa satelit VSAT penangkap sinyal.Tak ada jeda perekaman..

Larut semua,bisu.

Ia melangutkan dagunya di bingkai jendela,pipinya mulai sembab.Dongeng tentang sebuah kebahagiaan tak berperi telah mengangkat fikirnya sejenak,melayang bersama rinai sang hujan.

Jarinya mengetuk2 teralis,menambah suara triangle dalam orkestra kebun mungil.Mulutnya bersenandung.Lepas,jauh,sendu..


Ia sembunyikan anak2 rambut yang jatuh menutup matanya,ia urai d belakang telinga.Rambutnya punya tiga warna.Hitam,putih,dan merah kecoklatan.Sungguh bukan muda yg tampak pada wajahnya,balur2 keriput merampas cantiknya masa remaja..

Sejenak hening.Ia menutup mata,mencoba menikmati simfoni kebun mungilnya.Namun hidungnya tak lagi menghempas.Bibirnya pucat.Ia menggenggam potret hitam putih di tangannya yg mulai kaku.Sebentuk senyum terukir jelas d bibir potret itu.Figur lelaki yang telah ditolaknya mentah-mentah 52 tahun lalu..

Ia terduduk kaku di kursinya,pada malam saat hujan menghadiahinya sebuah balada syahdu..

Adakah kini kau rasa dingin,Nek??

[Jingga]

Copas dr catatan2 KABAR MUSLIMAH on Facebook

Selasa, 16 November 2010

Memaknai Idul Adha

Assalamualaikum . . .

IDUL ADHA....
Sejauh mana arti dan makna hari raya umat Islam ini bagi diri kita? Sepertinya sekali-sekali pertanyaan di atas perlu diajukan kepada diri sendiri. Apa artinya Idul Adha? Apakah hanya berarti sekadar shalat sunah Idul Adha, mendengarkan khotbah, kemudian menyembelih hewan kurban (jika mampu), atau kebagian daging kurban, lalu selesai ?

Jika arti Idul Adha hanya sebatas itu, sepertinya kita baru ikut-ikutan dan tak perlu marah jika ada yang menyebut kita adalah Islam KTP (beragama Islam berdasarkan catatan di kartu penduduk) semata. Masih perlu pemelajaran, memperdalam ilmu agama, atau belajar dari awal karena memang tidak memiliki dasar agama Islam sama sekali.

Idul Adha memiliki arti yang sangat dalam bagi umat Islam. Idul Adha terkait dengan keharusan bagi orang-orang mampu melaksanakan rukun Islam kelima, menunaikan ibadah haji. Idul Adha juga seharusnya mengingatkan kita semua bahwa kepatuhan terhadap Allah tidak dapat ditawar, seperti dicontohkan Nabi Ibrahim yang bersedia mengorbankan darah dagingnya sendiri karena perintah Allah. Nabi Ibrahim akhirnya lulus dari ujian Allah. Putra tercintanya, Nabi Ismail, atas kuasa Allah batal menjadi kurban dan diganti dengan seekor domba.

Belajar pada ketakwaan Nabi Ibrahim, siapapun umat Islam seharusnya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Seharusnya kita tidak sayang dengan uang untuk berkurban, menyembelih hewan untuk dibagikan kepada masyarakat yang tak mampu dan yang berhak menerimanya. Mengikuti jejak Nabi Muhammad Saw, seharusnya kita peduli antar sesama, memaknai Hari Raya Idul Adha yang juga dikenal dengan sebutan Hari Raya Kurban ini dengan mengedepankan sikap sosial, membantu sesama.

Apalagi jika kita kaitkan dengan kondisi negeri kita akhir-akhir ini yang tak hentinya-hentinya dihantam bencana. Berbagai musibah membuat sebagian rakyat di negeri ini menderita, yang miskin makin miskin, yang di atas garis kemiskinan dan masyarakat dari keluarga sejahtera pun ikut terjerembap. Yang terbaru adalah bencana banjir bandang di Wasior (Papua Barat), gempa dan tsunami yang menghantam Mentawai (Sumbar), serta meletusnya Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah. Semua itu memerlukan kepedulian sosial dari kita semua, dari pemerintah.

Belajar pada ritus ibadah haji yang mengajarkan persamaan di antara sesama, siapa pun di negeri ini seharusnya tergerak bersama-sama membantu, ikut meringankan beban korban bencana di berbagai daerah. Terkait dengan pelaksanaan kurban, misalnya, seharusnya masyarakat yang mampu memanfaatkan momen Idul Adha untuk memprioritaskan membantu sesama.

Terlebih bagi pemerintah, juga legislatif, selayaknya memprioritaskan program menanggulangi bencana. Jangan para korban hanya dibuai dengan janji, jangan jadikan mereka sebagai pelengkap penderita. Tidak selayaknya pemerintah menambah beban para korban bencana. Apalagi memperpanjang birokrasi dalam mendapatkan makanan, penggantian, serta bantuan lainnya.

Ingat, bagi korban bencana di mana pun mereka tak peduli apakah mereka dibantu pemerintah atau swasta, oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang ditunjuk pemerintah mengomandoi penanganan bencana Gunung Merapi, setelah letusan gunung itu banyak makan korban, atau dari PMI, TNI, dan sukarelawan yang langsung turun dari awal bencana Merapi terjadi. Karena itu dalam menyikapi Idul Adha 1431 H ini, siapapun jangan hanya sibuk mempermasalahkan adanya perbedaan Hari Raya Idul Adha di negeri ini, tapi maknai Idul Adha sebagai mana mestinya. Jangan buai para korban bencana-di mana pun mereka-dengan janji, tapi bantulah mereka sepenuh hati.***

** SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1431 H **'

Copas dr catatan2 SENTUHAN TARBIYAH on Facebook
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template