Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu dan Anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 April 2011

Air Putih Bukan untuk Bayi!

“MBAK, jangan lupa kasih air putih kalau adek habis minum susu, ya,” urai Riani kepada sang pengasuh sembari menyuapkan beberapa sendok air putih kepada bayinya yang berusia 3 bulan.

Tahukah Moms, di balik kebiasaan memberikan air putih ternyata tersimpan bahaya yang dapat mengancam si buah hati, utamanya bayi di bawah usia 6 bulan.


ASI, Sudah Cukup!

Air putih bermanfaat bagi kesehatan anak-anak dan orang dewasa memang benar, tapi TIDAK untuk bayi.
“Pemberian air putih tidak disarankan, khususnya pada bayi usia < 6 bulan, karena kegunaannya tidak ada,” buka dr. Yulia Lukita Dewanti, M. Ked. Ped, SpA dari RS Sari Asih Serang.

Pada bayi usia tersebut, pemberian ASI eksklusif tanpa pemberian cairan lain sudah cukup memenuhi kebutuhan gizi bayi sesuai dengan perkembangannya.

Secara alamiah, komposisi ASI –mengandung 88 persen air- yang diproduksi akan mencukupi kebutuhan cairan bayi.

Begitu pun dengan bayi yang minum susu formula, lebih dari 80 persen komposisi susu formula adalah air. Mengingat tingginya kadar air dalam ASI maupun susu formula, bayi kurang 6 bulan tak perlu diberikan tambahan cairan lain apapun secara langsung –termasuk air putih, teh manis, atau jus buah.

Artinya, bayi tidak akan kekurangan cairan sejauh bayi mendapatkan ASI atau susu formula cukup setiap harinya. Bayi akan selalu ‘meminta’ ASI/susu formula bila ia merasa haus (on demand).

3 Alasan Air Putih Dilarang

Lantas, mengapa air putih tak baik diberikan pada bayi?

Ginjal Bisa Rusak

“Pada bayi berusia kurang dari 6 bulan, semua organnya belum berfungsi laiknya orang normal pada umumnya. Nah, organ yang langsung berhubungan dengan metabolisme cairan adalah ginjal. Jika bayi diberi banyak air putih, maka ginjal yang belum siap menyaring –kecuali ASI- ini dapat rusak,” papar dokter penyuka novel ini.

Ya, ginjal bayi belum mampu mengeluarkan air dengan cepat, sehingga dapat menyebabkan timbunan air dalam tubuh yang dapat membahayakan bayi (keracunan air).

Keracunan air

Kelebihan air di atas akan menyebabkan kandungan elektrolit dalam darah menjadi tidak seimbang, misalnya sodium (natrium). Kelebihan cairan tersebut akan melarutkan sodium dalam darah dan akan dikeluarkan tubuh, sehingga kadar sodium menjadi rendah yang dapat memengaruhi aktivitas otak.

Awalnya ditandai dengan iritabilitas (merengek-rengek), mengantuk dan gejala penurunan kesadaran lainnya yang kadang luput dari kewaspadaan orangtua. Gejala lainnya adalah penurunan suhu tubuh, bengkak di sekitar wajah dan jika dibiarkan dapat menjadi kejang.

Jika si kecil sampai mengalami kejang, kemungkinan terjadi gangguan perkembangan di masa depannya namun bergantung pada frekuensi dan durasi kejang tersebut terjadi.

Kebutuhan gizi tidak terpenuhi

Selain keracunan air, memberikan air putih setiap kali bayi menangis adalah salah. Bayi yang menangis tidak selalu berarti lapar. Bisa saja ia BAK (Buang Air Kecil), BAB (Buang Air Besar), kurang nyaman, sakit atau lainnya.

Bayi yang diberikan air setiap ia menangis akan menjadi kenyang. Sehingga keinginan bayi untuk menyusu akan menurun. Akibatnya, asupan gizi dalam tubuh menurun pula.

Padahal tiga tahun pertama adalah golden period (masa keemasan) untuk pertumbuhan dan perkembangan anak di masa depan dan sangat bergantung pada asupan gizinya saat itu. Oleh karena itu, Moms harus mengonsumsi makanan yang bergizi agar kualitas ASI terjaga.

Diare, Tetap Berikan ASI

Bagaimana bila bayiku diare, apa boleh diberikan air putih? “Untuk bayi usia kurang dari 6 bulan, tetap berikan ASI saja. Memang, kebutuhan akan cairan saat diare akan meningkat, namun pemberian ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Semakin sering si ibu menyusui maka semakin banyak pula ASI yang diproduksi, sehingga Ibu tidak perlu khawatir ASI-nya tidak cukup,” saran dr Yulia.

Ingat, kandungan ASI sudah lengkap, termasuk kandungan elektrolitnya. Sehingga, pemberian cairan elektrolit khusus bayi tetap tidak disarankan.

Boleh Diperkenalkan lebih dari 6 Bulan

Pemberian air putih mulai dapat dilakukan saat bayi memasuki usia di atas 6 bulan, dimana MPASI (Makanan Pendamping ASI) mulai diperkenalkan. Selain itu pada usia lebih dari 6 bulan, organ bayi dianggap ‘siap’ untuk mencerna makanan dan minuman selain ASI.

Selain itu, ada beberapa penelitian menyebutkan bahwa pada kasus tertentu -seperti cuaca panas atau konstipasi- pemberian air pada bayi diperbolehkan.

Namun, pemberian air itu cukup berkisar satu sendok makan setiap pemberiannya. Sebaiknya, gunakan sendok, bukan dot/botol guna menghindari kehilangan kontrol berapa banyak air putih yang sudah diminum bayi, jangan sampai kebanyakan.

Misalnya yang terjadi di John Hopkins Children’ Center, sebuah rumah sakit di Amerika, seperti dikutip dari situsnya. Pada musim panas, banyak bayi yang dibawa ke ruang gawat darurat oleh orangtua yang panik karena bayi mereka kejang. Belakangan diketahui bahwa hal itu disebabkan oleh asupan air putih yang terlalu banyak.
Hmm, Anda tak mau hal itu terjadi pada si kecil, bukan?

Air Tajin, Tak Dianjurkan!

Pemberian air tajin (air rebusan beras) masih jamak ditemukan di masyarakat. Menyikapi hal ini, dr Yulia menegaskan bahwa air tajin tetap tidak dianjurkan untuk diberikan pada bayi usia kurang dari 6 bulan.

Banyak ibu-ibu memberikan air tajin bila anaknya terserang diare guna mengatasi dehidrasi. Banyak pula yang mencampurkan air tajin pada makanan bayinya saat si kecil berusia lebih dari 6 bulan.

Dikatakan dr. Yulia, komposisi air tajin tidak lain hanyalah karbohidrat. Memang, air tajin lebih baik dibandingkan dengan air putih yang tidak mengandung zat gizi dan hanya beberapa jenis elektrolit.

Walau begitu, bagi bayi lebih dari 6 bulan yang selalu diberikan air tajin, yang akan terpenuhi hanyalah kebutuhan karbohidratnya. Hasilnya, bayi bisa menjadi gemuk tanpa ada ‘isi’nya. Untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak, yang dibutuhkan bukanlah karbohidrat saja. Protein, lemak, serat, zat gizi makro dan mikro pun berperan penting.

Jadi, bijaklah dalam memilih makanan/minuman untuk dikonsumsi si kecil dalam masa tumbuh kembang-nya. (Sumber: Tabloid Mom/Kiddie)

Senin, 28 Februari 2011

Tips Membiasakan Anak Memakai Kerudung

Berikut beberapa tips yang bisa digunakan agar balita Anda berkenan memakai jilbab dan menikmatinya:
  1. Jangan biasakan anak untuk tidak berpakaian atau berpakaian seadanya, bahkan sejak masig bayi, hanya karena alas an panas. Hal itu bisa kita siasati dengan sering mengganti pakaian atau popoknya.
  2. Pada awalnya, biasakan anak yang berusia dibawah empat bulan mengenakan topi ketika keluar Rumah, walaupun hanya berjalan-jalan di depan Rumah.
  3. Setelah ia berusia empat bulan, mulailah mencoba untuk memakaikan kerudung kecil padanya.
  4. Pilihlah kerudung yang nyaman dipakai, seperti menggunakan kerudung dari bahan kaos atau yang menyerap keringat, sehingga dapat mengurangi gatal da panas saat beraktivitas.
  5. Pilihlah kerudung dengan warna yang menarik dan motif yang indah. Pilihkan jilbab yang modelnya lucu dan pakaian dengan warna favorit anak, sehingga ia suka memakainya. Pastikan pakaian itu menutup aurat dan tidak mengurangi ruang geraknya.
  6. Sediakan kerudung dengan jumlah yan tidak terlalu sedikit, sehingga dapat memberi kesempatan kepada anak untuk memilih kerudung yang hendak dipakainya.
  7. Biasakan memakai kerudung ketika keluar rumah.
  8. Beritahu anak mana pakaian yang pantas atau cocok untuk di dalam umah, dan mana pakaian yang bisa dipakai untuk keluar Rumah. Misalnya anak boleh mengenakan pakaian tanpa lengan da tidak berjilbab apabila di dalam rumah saja.
  9. Pujilah anak ketika mengenakan kerudung agar hatinya merasa senang. Orang tua bisa memujinya dengan pujian yang sederhana, seperti, “Duh, pinternya anakku kalau pakai jilbab! Masyaallah.. ”
  10. Bila anak sudah mampu berbicara dengan baik, terangkan kepadanya tentan perintah berjilbab dan keutamaannya.
  11. Bila anak akan memasuki usia baligh, terangkanlah tentang jilbab dalam pandangan syar’i, dan ajaklah untuk menyesuaikan pakaian yang dikenakannya sesuai dengan kaidah syar’i
***

Selasa, 18 Januari 2011

Meningkatkan IQ Anak Sejak Dalam Kandungan Dan Pada Awal Pertumbuhan

Para ahli menyatakan bahwa ternyata nilai IQ (Intelligence Quotient) seorang anak dapat dibentuk sejak dalam kandungan dan tahap awal masa tumbuh kembang si kecil. Berikut adalah beberapa cara praktis untuk memulai langkah tersebut,

1. Makananlah makan bergizi selama masa kehamilan
Pola makan yang benar haruslah tetap anda jaga selama kehamilan. Konsumsilah suplemen makanan yang mengandung kolin, untuk merangsang perkembangan otak janin. Perbanyak juga mengkonsumsi sea food, terutama ikan atau kerang. Makanan tersebut mengandung Lemak esensial atau lemak yang tidak dapat dibuat oleh tubuh seperti ARA (arachidonic acid), DHA (docosahexaenoic acid), Prebiotik, Lactoferin yang membantu membentuk struktur otak bayi.

2. Berikan Air Susu Ibu (ASI)
Beragam asam lemak yang terkandung dalam ASI mampu meningkatkan kecerdasan.Para peneliti juga mengindikasikan kegiatan pemberian ASI meningkatkan interaksi verbal antara ibu dan anak, sehingga membantu perkembangan Janin mereka
.
3. Berikan Binatang Peliharaan
Semakin kuat keterikatan dan perhatian si kecil terhadap hewan peliharaannya, maka akan kemampuan kognitifnya semakin terasah dan bisa membantu meningkatkan nilai IQ.

4. Kurangi pengaruh negatif
Kurangi hal-hal yang tidak memberikan pengaruh positif pada perkembangan otak si kecil. seperti misalnya orang-orang dewasa di sekitar si kecil yang menirukan bahasa bayi atau "baby talk" sangat tidak dianjurkan, karena hal tersebut bisa menjadi hambatan bagi si kecil dalam mengenali ragam kosakata baru. Selain itu menonton acara televisi pun ternyata dapat menimbulkan efek depresi pada anak

5. Lingkungan yang sehat dan nyaman
Lingkungan rumah dan keluarga yang sehat dan nyaman membantu menjaga perkembangan anak. Dengan adanya suasana keluarga yang harmonis, hangat dan penuh kasih sayang maka anak akan tumbuh dan berkembang dengan optimal.

6. Stimulasi pengasah kecerdasan anak
Memberikan stimulasi seimbang dapat mengasah kecerdasan anak. Mengajak anak bermain dengan alat permainan yang dapat merangsang daya pikir sesuai usia mereka, seperti balok susun, puzzle, menggambar, mewarnai dll

Senin, 17 Januari 2011

Ini Dia Hal Yang Harus Anda Waspadai Saat Si Kecil Menonton TV

Sudah banyak penelitian yang menyebutkan dampak buruk televisi pada anak-anak. Sebagai orangtua, Anda dan pasangan pun harus mewaspadai lima hal ini, saat membiarkan anak menonton televisi.

Menurut American Academy of Pediatrics (Organisasi Dokter Anak di AS), anak-anak di bawah dua tahun tidak boleh menonton televisi. Namun tidak sedikit orangtua yang terkadang membiarkan balita-balita mereka ikut menonton acara televisi favorit.

Apapun pilihannya, sebagai orangtua Anda tetap harus mewaspadai dampak televisi terhadap anak. Saat membiarkan anak menonton televisi, ingatlah lima hal di bawah ini, seperti dilansir Fit Pregnancy:

Jumat, 26 November 2010

Wahai Anakku, Cintailah Al-Qur’an!

Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak adalah hal yang paling pokok dalam Islam. Dengan hal tersebut, anak akan senantiasa dalam fitrahnya dan di dalam hatinya bersemayam cahaya-cahaya hikmah sebelum hawa nafsu dan maksiat mengeruhkan hati dan menyesatkannya dari jalan yang benar.

Para sahabat nabi benar-benar mengetahui pentingnya menghafal Al-Qur’an dan pengaruhnya yang nyata dalam diri anak. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anaknya sebagai pelaksanaan atas saran yang diberikan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam hadits yang diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash,

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Minggu, 07 November 2010

Cara Mengajari Balita Anda Bicara

Setiap perkembangan pada anak, khususnya balita, memiliki arti tersendiri bagi orangtua. Salah satunya ketika si kecil mulai belajar bicara. Ini merupakan tahap penting yang ditunggu-tunggu oleh orangtua. Banyak cara bisa dilakukan untuk merangsang anak cepat bicara.

Mulai dari rajin mengajaknya bicara hingga telaten membacakan cerita. Dikatakan oleh psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B Hermawan Psi, cara tersebut menjadi salah satu cara yang tepat untuk menstimulasi anak agar lebih cepat berbicara. ”Sebaiknya itu dilakukan sejak dini,” katanya.

Jika anak mengucapkan kata yang salah, benarkan tanpa memojokkan anak. Menarik bahasa anak agar sempurna adalah hal yang wajib dilakukan orangtua. Sani menjelaskan, saat berbicara, berarti ada dua organ yang terlibat, yaitu pendengaran dan wicara. Pada saat masih kecil, anak bisa berbicara jika mendengar dengan baik. Jadi, anak harus dirangsang baik dari segi pendengaran dengan menstimulasi lewat suara. Selain suara orangtua, lewat suara dari lagu atau suara televisi.

”Kenalkan beragam suara dari lingkungan bisa langsung maupun lewat media. Stimulasi wicara bisa dilatih dengan menguatkan otot wicara, dengan mainan gigitan yang lunak.

Disarankan oleh Sani agar mengajak bicara pada bayi sejak dini. Sejak lahir, bayi sudah bisa mendengar dan mengerti suara manusia, terutama suara ibunya. Walaupun bayi belum bisa menjawab dengan kata-kata, tetapi bayi bisa menyatakan perasaan dengan senyuman, gerakan bibir, bersuara, berteriak, menggerakkan tangan dan kaki, kepala, atau menangis.
Supaya bayi Anda tidak terlambat bicara, maka lakukan metode ini setiap hari. Bicara sesering mungkin dan dalam kegiatan apa pun ketika orangtua berada tidak jauh dari bayi. ”Dengan seringnya anak mendengar, maka anak akan memiliki banyak kosakata.”

Jadi, semakin sering atau sebanyak mungkin orangtua berbicara dengan penuh kasih sayang walaupun anak belum bisa menjawab, hal itu dimungkinkan agar anak cepat merespons. Saat berbicara, orangtua bisa memulainya dengan bertanya kepada bayi seperti ”adik lapar ya? Ini mainan siapa? Gambar ini warna apa?” dan lainnya.

Orangtua bisa memancing respons anak dengan berkomentar terhadap perasaan bayi seperti, ”Kenapa sayang, kamu lapar yah? Yuk makan sini,”. Selain itu, melatih anak berbicara bisa juga dengan menyatakan perasaan ibu atau ayah, seperti kangen. Juga bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi. Seperti ”itu ada pohon, pohon daunnya warna hijau, nanti berbuah mangga. Adik suka mangga nggak”.

Nah, di saat bayi sudah bisa mendengar pertanyaan atau cerita Anda, kemungkinan bayi akan merespons. Jadi, ketika bayi atau anak bersuara atau berbicara walaupun tidak jelas, sebaiknya orangtua menoleh dan memandang ke arah bayi dan mendengarkan suara bayi seolaholah orangtua mengerti maksudnya dan tirukan suaranya.

”Berikan jawaban atau pujian seolah-olah bayi mengerti jawaban orangtua dan jangan pernah menyebutkan potongan kata, semisal sepatu..ya harus sepatu, bukan sepa.. tu,” ungkap Sani.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mendengarkan lagu atau menonton televisi sambil mendampingi anak. Saat mendampingi anak menonton televisi, orangtua bisa sambil menunjukkan dan menyebutkan nama-nama benda, tokoh, atau kejadian yang ada di televisi. Ajak anak untuk mengulangi kata yang diajarkan.

Bermain dengan cilukba bisa menjadi alternatif. Saat ibu berkata “ciluuuuuuk” dengan muka yang ditutup bantal, beberapa detik kemudian bantal ditarik ke samping dan kembali ucapkan ”baaaaaaa” dengan nada riang. Setelah itu, Anda bisa melakukan bernyanyi bersama sambil bermain. Dengan tepukan dan menunjuk anggota tubuh lain dengan suara yang jelas.

Membacakan cerita sambil menunjukkan gambar bisa orang tua lakukan untuk melatih anak berbicara. Bacakan cerita singkat dari buku cerita anak yang bergambar. Selain itu, ajak bermain dengan anak lain atau dengan kakak, tetangga, sepupu yang sudah lebih jelas berbicaranya, semisal sambil bermain boneka, kubus, balok, gambar, atau yang lainnya.

”Dalam berinteraksi, gunakan bahasa yang sederhana agar si kecil dengan mudah dapat memahami maksud Anda,” sarannya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Paundara Dianti, 26. Saat ini, wanita yang akrab disapa Dian itu selalu mengajarkan cara sederhana yang diajarkan oleh orangtuanya agar bayinya cepat bicara. Seperti mengajak anak bercerita sejak anak dalam kandungan. ”Sekarang anak saya hampir satu tahun, tapi kerjaannya ngoceh, ceriwis banget, karena mungkin sudah diajarkan untuk bisa bicara sejak dini,” paparnya.
Dian bercerita, saat bayinya memasuki umur 7 bulan, bayi sudah mulai mengucapkan suara yang hampir membentuk kata. Seperti ”ma-ma”atau ”pa-pa”. Selain senang karena sudah bisa diajak berkomunikasi, hal itu menjadi suatu kebanggaan untuk dirinya karena anaknya lebih cepat memiliki kemampuan untuk berbicara.

”Semua kosakata saya ajarkan secara bertahap, tapi sebisa mungkin anak saya dihindarkan dari kata-kata yang tidak pantas untuk seusianya,” ungkap Dian. (sydh/ Sindo)

Sumber : voa-islam

Sabtu, 06 November 2010

5 Hal Yang Tak Boleh Dilupakan dalam Mendidik Anak Shalih

Segala hal yang berkaitan dengan pendidikan anak, selalu menarik perhatian setiap orang tua. Tidak heran bila buku-buku tentang pendidikan anak selalu menjadi “buruan” para ayah dan ibu sepanjang waktu. Sebuah ekspresi akan besarnya tanggungjawab terhadap tumbuh kembangnya anak-anak dalam fitrahnya yang suci.

Terlalu banyak argumen yang dapat disajikan, mengapa orang tua harus bersemangat dalam mendidik anak. Baik alasan-alasan yang bersifat diniyah maupun duniawiyah. Dalam dimensi keduniaan, anak-anak yang terdidik dengan pendidikan rabbani akan menunjukkan baktinya kepada kedua orang tua; memberikan perhatian penuh di segala susah dan senangnya; Mengangkat derajat kemuliaan dengan karya-karya terbaik di mata manusia; dan merawat dengan penuh kasih sayang di kala tua.

Sementara dalam dimensi akhirat, cukuplah kiranya satu hadits Rasulullah SAW sebagai spirit: “Jika anak Adam meninggal dunia, terputuslah segala amalnya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya” (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ahmad).

Keshalihan dan kedekatan kepada Allah adalah bekal utama dalam menjalankan peran mulia ini. Di samping itu, bekal lain yang harus dimiliki oleh setiap orang tua dalam mendidik anak-anak mereka adalah ilmu. Ilmu tentang urgensi, objek (hal-hal yang harus diutamakan), metode, hingga sarana-sarananya.






Kedua bekal utama di atas, insya Allah telah cukup memadai untuk membentuk anak-anak shalih dengan ijin-Nya. Namun, agar usaha orang tua lebih optimal, ada beberapa hal yang tidak boleh dilupakan ketika mendidik anak-anak mereka:

1. Kerjasama

Dalam konteks keluarga, kita mengenal istilah keluarga inti dan tambahan. Keluarga inti meliputi; ayah, ibu dan anak-anak. Sedangkan keluarga tambahan adalah semua orang yang tinggal seatap dengan keluarga inti seperti; adik, kakak, keponakan, pembantu dan lain-lain. Sekaitan dengan usaha mendidik anak, semua pihak baik yang termasuk keluarga inti maupun tambahan harus bekerjasama dengan baik. Memiliki persepsi dan sikap yang sama tentang apa yang semestinya mereka perbuat dan tidak di depan anak-anak. Jangan sampai ada seorang pun yang menjadi model negatif, dari sisi perilaku dan ucapannya.
Kondisi ini lebih mirip pada pembentukan bi’ah shalihah (lingkungan yang kondusif) bagi tumbuh suburnya potensi-potensi kebaikan pada diri anak-anak. Sehingga fungsi rumah sebagai masjid akan tampak lebih dominan di mata anak-anak, dengan hadirnya ta’awun (saling bekerjasama) dalam hal kebaikan di antara orang-orang yang bernaung di dalamnya.

2. Lemah lembut

Kalau boleh dianalogikan, anak ibarat benih yang baru mengeluarkan tunasnya. Meski butuh air untuk pertumbuhan, siapa pun tidak boleh menyiramkan air dengan jumlah yang berlebihan. Berlebihan dalam menyiramkan air justru akan menyebabkan tunas itu patah dan tidak dapat tumbuh dengan sempurna. Demikian halnya dengan anak. Kendati sangat butuh arahan, nasihat dan didikan, tidak selayaknya pendidikan anak dilakukan dengan cara-cara kasar. Alih-alih meninggalkan kesan, sebaliknya akan mengakibatkan anak-anak terganggu secara kejiwaan.
Rasul SAW bersabda; “Sesungguhnya Allah Maha lembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim).

3. Bertahap

Allah menyertakan setiap syariat yang diturunkan-Nya dengan minhaj (metode implementasi)-nya masing-masing. Mengikuti kesempurnaan Islam, Allah pun menjadikan metode implementasinya sebagai minhaj yang paling sempurna. Di antara minhaj itu adalah; marhaliyah (bertahap). untuk itu, setiap waktu dalam mendidik anak yang merupakan bagian dari mengajarkan Islam, syariat menuntut orang tua untuk melakukannya secara bertahap.
Hal ini berarti, secara otomatis mengharuskan orang tua mampu membuat skala prioritas, tentang mana yang harus didahulukan dan apa yang mesti diakhirkan. Memulai dari hal-hal yang mudah, dari diri dan lingkungan terdekatnya, serta disesuaikan dengan kemampuan berpikir atau mencerna setiap peristiwa dan kata-kata. Dengan bertahap, orang tua akan lebih mudah melakukan evaluasi. Dengan bertahap, anak-anak akan mudah mengambil setiap pelajaran yang diberi.

4. Evaluasi

Keberhasilan apa yang bisa diketahui dari proses pendidikan anak tanpa evaluasi? Tidak ada. Karenanya, evaluasi menjadi bagian penting yang tak terpisahkan. Karena dengan evaluasi orang tua dapat mengetahui hal-hal apa sajakah yang telah dan belum diberikan kepada anak-anak, serta tindakan terbaik apa yang akan diambil karenanya. Orang tua dapat memilih caranya sendiri-sendiri dalam melakukan evaluasi atas proses pendidikan anak yang mereka lakukan. Untuk itu, luangkan sebagian dari waktu-waktu anda khusus untuk melakukan evaluasi ini. Bila perlu, buat form berisi daftar hal-hal yang perlu dievaluasi.
Kita tentu ingat apa yang dilakukan Rasulullah dengan mendatangi rumah Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar ibnul Khatthab di waktu-waktu qiyamul lail. Juga ketika Rasulullah menanyakan kepada para shahabat: “Siapakah di antara kalian yang pagi ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab, “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bertanya lagi: “Siapakah hari ini yang mengantarkan jenazah orang yang meninggal?” Abu Bakar menjawab, “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberikan makan pada orang miskin?” Abu Bakar menjawab, “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bertanya kembali “Siapakah di antara kalian yang hari ini telah menengok orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya wahai Rasulullah.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga” (HR Bukhari).

5. Konsisten

Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit” Berbeda dengan amal yang banyak tapi hanya sesekali, amal yang konsisten dilahirkan oleh hati yang khusyuk, sehingga lebih berpahala dan jauh lebih besar pengaruhnya.
Hubungannya dengan mendidik anak, konsistensi sangat dibutuhkan. Sebagai jawaban atas fitrah jiwa manusia yang mudah berubah-ubah tergantung lingkungan dimana ia berada. Lebih-lebih dalam kondisi di mana kemaksiatan seolah tak berjeda. Tersebar hampir di setiap sudut kota, di pinggiran jalan raya, dan melalui televisi menyelinap ke bilik-bilik rumah kita. Ketidakonsistenan orang tua hanya akan “menyulap” nilai-nilai rabbani yang dengan susah payah ditanamkan, lalu berganti dengan budaya jahiliyah yang penuh kehinaan.
Ya Rabbi, anugerahkanlah kepada kami anak-anak yang shalih, yang dengan keshalihannya Engkau berkenan mengumpulkan kami bersama para nabi, shidiqin, syahada dan shalihin…! [voa-islam.com]

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template